Kisah pelangi hidup – Syafiq Syahmi Sazali
Rencana

Kisah pelangi hidup – Syafiq Syahmi Sazali

Awalnya agak sulit untuk mau mendekati pemain berusia 25 tahun ini. Bukan karena sifatnya yang sombong tapi karena sikapnya yang terlalu rendah hati.

Baginya, episode kisah hidupnya bersama Yayasan Ikhlas (YI) tidak harus menjadi sorotan publik, cukup menjadi harta pribadi yang rapi.

Namun atas dasar ingin mengajak anak muda agar tampak mencintai bidang kerelawanan, ia mencoba menguak satu per satu rahasia hidupnya.

Awal mula kanvas hidupnya bersama YI, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) bukanlah kehendak hati.

Bahkan tidak pernah terlintas dalam benak hatinya, dia bakal menjadi “tulang belakang” kepada badan yang baru berusia 7 tahun ini.

Hingga ia disebut sebagai sahabat sebagai orang yang paling tulus bekerja sama dengan YI. Namun karena kerja volunter ini lekat dengan perjalanan hidupnya selama 25 tahun ia “ikhlas” untuk bersama-sama menggerakkan YI.

Pengungkapan keikutsertaannya sebagai Pejabat Khusus YI dimulai saat dirinya dipanggil untuk diwawancarai oleh YI 2 tahun lalu. Dia juga pada awalnya tidak mengenal YI, tetapi setelah terlibat dalam beberapa proyek dengan YI saat di universitas, dia hanya tahu sedikit tentang hal itu.

Secara kebetulan, ketika di tahun terakhir studinya, ia menjabat sebagai Kepala Biro Bakti Persatuan Pemuda Islam Nasional (PEMBINA) di Universiti Putra Malaysia (UPM) yang memungkinkannya untuk merencanakan proyek sukarela dengan YI.

“Saya ingat lagi, waktu itu ada banjir besar. Saya bertanggung jawab untuk mengumpulkan relawan dari UPM untuk berpartisipasi dalam proyek bersih-bersih di Pahang. Makanya saya kirim rombongan mahasiswa untuk bersama YI,” ujarnya.

Sejak itu asosiasinya sering bermitra dengan YI untuk menjalankan proyek sukarelawan yang secara bergantian diundang menjadi sukarelawan penuh waktu di YI.

Awalnya dia agak enggan menerima tawaran itu karena dia punya rencana hidup sendiri. Ditambah dengan gaji yang akan diterima mungkin tidak banyak. Pada saat yang sama, ada berbagai tawaran pekerjaan dari perusahaan besar dengan gaji tinggi karena pemegang gelar Sarjana Teknik Dirgantara ini sering menjadi mahasiswa terbaik, menambah kebingungan baginya untuk memilih jalan.

Namun pada akhirnya ia memilih untuk tetap bersama YI, bukan karena gaji atau namanya tetapi nilai dan pengalaman yang akan ia peroleh bersama YI akan lebih berharga. Bahkan pengalaman hidupnya bisa dijadikan nilai tambah untuk mendorong YI.

Ketika diterka dengan pertanyaan tentang kisah masa lalu hidupnya, riak-riak di wajahnya berubah keruh dan suram. Sesi wawancara sempat terhenti karena dia terdiam beberapa saat. Lama Syafiq ingin membuka mulutnya tentang pelangi hidupnya.

“Saya berasal dari keluarga yang bercerai. Sejak itu, kehidupan kami sebagai saudara menjadi sulit dan saya harus menjadi kepala keluarga bagi saudara dan ibu saya, ”katanya perlahan.

Lahir sebagai anak sulung dari 4 bersaudara. Perceraian itu juga merupakan pukulan besar bagi dirinya dan keluarganya. Ketika penduduk desa memandang rendah perceraian. Sampai batas tertentu masalah itu menjadi jantung berdebar-debar dalam dirinya.

Hal semacam itu bisa membuatnya menjadi remaja yang memberontak terhadap tekanan masyarakat sekitar. Namun ia memilih menjadi “pria” dewasa di usia 14 tahun dengan tekad untuk mengembalikan martabat keluarga.

Sedikit demi sedikit ia mendekati kegiatan masyarakat di desa tersebut. Membantu warga desa untuk mengadakan pesta, bahkan bergabung dengan tim pencak silat dan Rakan Muda.

Keterlibatan aktifnya menjadi keyakinan baginya untuk diangkat sebagai pemuka silat pemuda desa yang pada gilirannya sedikit demi sedikit menghilangkan persepsi negatif terhadap keluarganya.

Ibunya, yang bekerja sebagai buruh pabrik, tidak mampu untuk hidup. Atas desakan dan keadaan yang dilihat dengan mata kepala sendiri, Syafiq berusaha membantu pamannya di perkebunan karet, perkebunan kelapa sawit, dan sekaligus menjadi salah satu siswa terbaik di sekolahnya.

Rutinitas hariannya akan berjalan dari pagi hingga malam. Di pagi hari di sekolah, di malam hari keliling desa melakukan pekerjaan seperti seni ramal tapak tangan, berkebun, pertukangan dan masih banyak lagi. Tanggung jawab yang seharusnya dilakukan seorang ayah terus berlanjut hingga perguruan tinggi.

Kesulitan hidupnya semakin mendesak ketika masuk universitas, ketika dia tidak bisa membayar biaya masuk.

“Pada hari pendaftaran UPM, saya melihat semua orang mengeluarkan bukti pembayaran biaya. Tapi saya waktu itu tidak punya cukup uang untuk membayar biayanya. Saat saya mendekati meja pendaftaran saya hanya percaya pada Tuhan. Saya berkata dalam hati, jika ada rezeki saya masukkan kamu, apa adanya. Kalau tidak ada, saya kembalikan,” kata pria asal Johor itu.

Untunglah rezeki ada di pihaknya ketika ia bisa melanjutkan studinya di universitas. Bahkan, uang beasiswa dari Bagian Pelayanan Masyarakat (JPA) yang diterimanya itu diberikan separuhnya kepada ibu-ibu di desa itu untuk menutupi biaya adik-adiknya yang masih sekolah.

“Selama kuliah, saya mencari nafkah dengan berdagang nasi lemak. Saya juga akan berusaha untuk hemat dalam pengeluaran,” ujarnya.

Kilas balik hidupnya tidak berhenti di situ. Dia ingat lagi selama studinya di Perak Matrikulasi dia mengambil kemeja dari gantungan yang jatuh di kampus tempat tinggalnya untuk dipakai dan diberikan kepada adik laki-lakinya.

“Saya menunggu selama berbulan-bulan untuk tumpukan pakaian yang dikumpulkan oleh bibi pembersih. Alih-alih mengambil yang baik yang menganggur. Jadi setiap pulang, saya kasih kaos bola ke adik bungsu saya,” ujarnya sambil berlinang air mata mengingat kisah hidupnya.

Bahkan selama menjadi mahasiswa ia tidak pernah membeli baju baru sehingga baju yang dikenakannya terlihat sangat lusuh.

Dia mengatakan ada terlalu banyak cerita dalam hidupnya, tapi itu sudah cukup. Yang dia inginkan sekarang adalah berusaha membantu kelompok-kelompok yang masih miskin dan putus sekolah.

Dia ingin setiap bantuan yang dilakukan YI benar-benar bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan.

“Kisah hidup saya sangat erat kaitannya dengan apa yang dilakukan YI. Jadi setiap kali bantuan dikirim ke fakir miskin dan membutuhkan, saya sangat memahami kebutuhan tersebut. Bahkan, saya bisa merasakan sakitnya hidup yang mereka alami karena saya pertama kali merasakannya,” ujarnya.

Kini Syafiq selain bekerja sebagai Officer di YI, juga mengelola Aryan Training & Consultant yang fokus pada remaja dan pemuda. Selalu diundang ke sekolah dasar dan menengah, serta lembaga pendidikan tinggi untuk memberikan motivasi dan beberapa slot yang diminta. – 13 Maret 2016.

* Ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan The Malaysian Insider.


Posted By : Togel Hari Ini Hongkong Yang Keluar