Wanita yang berlari – Afifah Ali
Rencana

Wanita yang berlari – Afifah Ali

Gelar wanita mungkin harus mengambil auranya sekarang karena usia saya mendekati 2 dekade.

Dan di usia ini saya rasa saya perlu lebih serius lagi tentang peran perempuan baik dengan menelusuri kehidupan figur perempuan yang mengubah dunia, mengembangkan potensi diri yang beku atau dengan mengamati isu-isu global tentang perempuan saat ini.

Sebab, bagaimana bisa sebuah generasi harapan lahir dari rahim seorang ibu yang tidak membangun harapan dan impian.

Saya termasuk anak muda yang tidak ketinggalan dengan kecepatan dan kecanggihan situs sosial di dunia maya dan selama periode Hari Perempuan Internasional hari itu.

Seperti biasa, para wanita merayakannya dengan rangkaian nasihat dan kalimat penghargaan di Facebook, WhatsApp, dan sebagainya.

Saya menjalani hari itu dengan cukup antusias dengan membaca pesan-pesan di awal hari dan meninggalkan sisanya ketika puluhan pesan serupa masuk.

Setiap tahun fenomena seperti itu terjadi, siapa pun yang sadar akan mengambil semangat hari tanggal 8 Maret dan mengubahnya menjadi kekuatan tajdid pada diri mereka sendiri sementara sebaliknya akan merayakannya dengan retorika atau karena dia seorang wanita sendirian.

Maka tidak ada keinginan untuk mengubah dirinya apalagi umat manusia.

Tapi saya sangat yakin bahwa kebanyakan wanita atau wanita saat ini baik dan ingin berlomba untuk kebaikan.

Namun, munculnya beberapa masalah kompleks inferioritas yang menyebabkan mereka merasa terpenjara lagi dan kemudian kembali membekukan diri dari pemicu perubahan apa pun.

Terkadang mereka bukan orang biasa, mereka mungkin memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat (baca: Islam) sejak kecil, tetapi ketika diminta untuk memimpin shalat berjamaah sesama jenis, mereka ditolak setelah semua upaya mereka.

Maka lahirlah pahlawan-pahlawan ciptaan yang hanya hebat bersuara tentang dakwah, usrah, tamrin di Facebook tetapi pada kenyataannya mereka tidak seperti penguasa tubuh.

Mereka ini berpotensi dan berakhlak, tetapi cuma perlu disuntikkan lagi semangat dan keyakinannya supaya golongan ini setidak-tidaknya dapat mengisi kelompangan yang berlaku dalam institusi pendidikan dan kekeluargaan yang semakin hari semakin meranap.

Wanita zaman sekarang tidak bisa lari dari panggung ilmu. Meskipun masih sulit untuk melihat wacana ilmiah saat ini yang rata-rata dipelopori oleh panel perempuan, tetapi proliferasi minat terhadap budaya pengetahuan khususnya mahasiswa terlihat lebih luas di kampus-kampus besar.

Perubahan iklim atau tren membaca juga sudah menunjukkan bunga perubahan dari tema cinta ke yang lebih realistis.

Perempuan juga tidak terlepas dari persoalan emansipasi. Tentunya ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang mengeluarkan suara-suara yang berbeda dan menuding kebijakan-kebijakan Islam sebagai penyebab atau musuh dalam menuntut hak ini, terutama dalam bab tentang distribusi harga, poligami dan sebagainya.

Maka disinilah titik kesinambungan antara asatizah dan profesional, khususnya di bidang ilmu perlu dibangun.

Mereka, di sisi lain, duduk bersama dalam upaya mencerahkan masyarakat tentang keadilan hukum syariatullah dan sunnatullah.

Hal ini dikarenakan masih banyak perdebatan yang kita sendiri masih terjebak tidak lain adalah yang bersumber dari ketidaktahuan masyarakat atau para ilmuwan itu sendiri.

Kita mungkin tidak harus sekuat Cut Nyak Dhein dalam mengangkat senjata atau sekuat Marie Curie dalam menahan penyakitnya karena ujian kita berbeda dengan ujian mereka. Hanya sikap mereka yang perlu ditanamkan dalam diri kita.

Wanita yang tahu peran diri akan berlari dan berlomba menuju kebaikan dan kehalusan. Selamat Hari Perempuan Sedunia! – 11 Maret 2016.

* Ini adalah pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan The Malaysian Insider.


Posted By : Togel Hari Ini Hongkong Yang Keluar